TERBENTUKNYA DESA RACI
Pada zaman dahulu ada seseorang yang bernama KI MARTO KUSUMO. Beliau memiliki 2 anak laki-laki dan perempuan. Anaknya yang laki-laki bernama DIPOYONO dan yang peerempuan bernama MADIYAH.
Ki marto kusumo adalah salah satu murid dari Sunan Bonang. Di situ sunan bonang memberi tahu kepada ki marto bahwa ada suatu daerah yang belum di singgahi, dan sunan bonang memerintah ki marto untuk singgah di sana dan membuat padepokan. Karena ki marto belum tahu dimana tempatanya, ki marto pun menanya kepada sunan bonang. Sunan bonang menyuruh ki marto untuk mengikuti tongkat sunan bonang yang di lemarkannya itu. Di mana tongkat sunan bonang terjatuh maka di situlah tempat kimarto untuk membuat padepokan. Ki marto dan keluarganya pergi untuk mengikuti tongkat sunan bonang itu. Dan tongkat itu berhenti dan di situlah ki marto harus membuat padepokan dan ki marto menamai padepokan itu dengan sebutan PADEPOKAN PEKUWON.
Seiring berjalannya waktu dipoyo dan madiyah pun sudah dewasa. Mereka ingin memperluas wilayahnya. Madiyah ingin menebas hutan, tetapi madiyah tidak bisa. Madiyah mempunyai akal untuk menebas hutan dengan cepat. Dia membakar semua hutan dan dipoyono pun ikut membakar, karena dipoyono tidak ingin kalah dengan madiyah maka dipoyono berjanji “di mana abu bekas bakaranku, di situlah wilayahku”.
Hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun, madiyah menikah dengan jokotaruno. Mereka membangun rumah tangga dan membangun rumah di hutan yang sudah di bakar oleh madiyah itu. Madiyah meihat ada pohon turi yang tumbuh jarang di dekat rumahnya. Lalu dinamakan KARANGTURI.
Madiyah akan membuat padepokan. Dia berjualan jamu gendong. Ketika madiyah berjalan, dia melihat ada seseorang yang sudah tidak bernyawa tergeletak di tengah jalan. Seseorang itu ternyata maling yang berasal dari seberang timur, yang meninggal karena mabuk. Maling itu tidak boleh di kuburkan di daerahnya, maka dari itu di kuburkan di batas desa sebelah timur pojok yang di namai dengan KUBURAN DEMPING.
Kemudian madiyah meneruskan perjalanannya. Sesampai di piringan selatan ada yang berjualan legend an madiyah membeli legen itu. Di rasakanya legen itu sedap dan beraroma bumbung (bamboo untuk tempat legen). Madiyah berfikir untuk menamai tempat itu adalah DUKUH MAMBUNG.
Dari tahun ketahun, musim kemarau panjang yang membuat pepohonan pada mati. Joko taruno bersemedi dan mendapat wasiat bahwa di sebelah selatan timur ada sumur besar. Kemudian joko taruno membuat sumbur di daerah itu. Ketika joko taruno membawa air hanya sedikit, di situ terjadi sumber air yang banyak sehingga dapat di gunakan untuk penghidupan orang banyak. Sumber itu dinamai SUMUR BLUMBUNG.
Ki jikotaruno dan nyi madiyah mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama suyono. Ceritanya suyono menyuaki seorang putrid dari pekuwon yang bernama SUALASTRI. Tetapi hubungan mereka berdua tidak di restui oleh kedua orang tuanya. Sehingga suyono berkata “jika aku tidak bisa menikah dengan sulastri lebih baik aku mati saja”. Perkataan suyono itu membuat kedua orang tuanya merasa takut kehilangan karena suyono adalah anak satu-satunya. Dab hubungan merepun di restui oleh kedua orang tuanya.
Pada suatu hari di saat suyono dan keluarga ingin melamar sulatri, di tengah jalan hujan lebat, padahal masih musim kemarau. Di sertai petir yang menyambar. Salah satu orang yang menggendong jambe suruh kesamber petir. Dan yang lain pada balik pulang dan pernikahannya batal. Sesudah itu nyi madiyah mengucapkan sumah yang berbunyi “jangan sampai anak turun cucuku mendapatkan orang pekuwon”. Cerita cinta suyono berakhir tragis. Dan nyi madiah berkata “anak cucuku nanti jika menikah harus menemuiku,maka akan kurestui dan aku doakan selamat selamanya”.
Mayat suyono sekarang di makamkan di sebelah timur yang ada gundukan tanah seperti ulo yang dinamai dengan MAKAMPULO(sawahan kidul). Di akhir cerita nyi madiah mebuat nama yang di ringkas reraci dan di padukan dengan pekerjaannya sehari-hari yang meracih jamu, nama itu adalah “RACI SIDO MULYO”. Makan mbah madiah di sebelah jomblang timur. Sedangkan makan joko taruna di makamkan di sumur brumbung. Dan racikan jamu mbah madiah tumbuh menjadi pohon kemuning dan pohon dorodadi (punden).
Penulis :
AINUN ALFA
Penerbit Cah Raci Go Blogs.
AINUN ALFA
Penerbit Cah Raci Go Blogs.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar